JAKARTA, WARTAJABAR.COM – Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang terus berkembang, nilai-nilai kearifan lokal kembali menjadi perhatian sebagai sumber refleksi dalam memahami arah perjalanan bangsa. Salah satunya disampaikan oleh Hadysa Prana, Ketua Umum sekaligus Pendiri MAUNG (Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan) dan RAJAWALI (Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia), melalui kajian mengenai Uga atau Wangsit Siliwangi.
Dalam pandangannya, frasa “Lebak Cawéné” merupakan simbol yang sarat makna dalam tradisi Sunda. Menurutnya, istilah tersebut bukan sekadar merujuk pada lokasi tertentu, melainkan menggambarkan nilai-nilai moral dan harapan akan lahirnya kepemimpinan yang menjunjung tinggi keadilan.
Hadysa mengutip salah satu naskah Uga yang berbunyi:
“Engké, mun tatanan geus ruksak… panyawangan aya di Lebak Cawéné! Di dinya bakal muncul nu maréntah kalawan adil.”
Yang diartikan sebagai:
“Nanti, apabila tatanan sudah rusak, tempat kembalinya kebaikan ada di Lebak Cawéné. Di sanalah akan muncul pemimpin yang memerintah dengan adil.”
Menurutnya, secara filosofis “Lebak” melambangkan kerendahan hati, tempat berkumpulnya masyarakat atau akar rumput, sedangkan “Cawéné” dimaknai sebagai sesuatu yang suci, bersih, serta belum terpengaruh oleh kepentingan duniawi.
Simbol Kesadaran Kolektif
Hadysa menjelaskan bahwa Lebak Cawéné tidak harus dipahami sebagai lokasi geografis tertentu, meskipun terdapat sejumlah pandangan yang mengaitkannya dengan wilayah tertentu. Ia menilai makna sesungguhnya lebih mengarah pada simbol kesadaran kolektif masyarakat yang tetap menjaga nilai kejujuran, integritas, dan kemurnian moral.
Dalam konteks tersebut, ia mengaitkan konsep Restorasi Watang Ageung sebagai upaya mengembalikan nilai-nilai luhur ketika tatanan sosial dan kepemimpinan mengalami kemunduran.
“Ketika pusat kekuasaan kehilangan arah, perubahan justru berpotensi lahir dari masyarakat yang tetap memegang teguh integritas dan nilai-nilai kebaikan,” ujarnya.
Menurutnya, pemimpin yang lahir dari kesadaran tersebut diharapkan mampu menghadirkan keadilan sosial, memperkuat sektor agraria, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.
Pesan Optimisme bagi Bangsa
Hadysa menilai pesan yang terkandung dalam Wangsit Siliwangi merupakan bentuk optimisme bahwa setiap krisis akan selalu membuka ruang bagi lahirnya tatanan baru yang lebih baik, selama masyarakat tetap menjaga moralitas dan nilai-nilai kebajikan.
Semangat tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu landasan perjuangan MAUNG dan RAJAWALI dalam mendorong nilai kebenaran, menyuarakan keadilan, serta menjaga integritas sebagai fondasi terciptanya kehidupan yang adil dan sejahtera.
Ia menegaskan bahwa kajian tersebut merupakan bagian dari refleksi budaya dan kearifan lokal yang diharapkan dapat memperkaya perspektif masyarakat mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penulis: Tim MAUNG & RAJAWALI | Publisher: TIM/RED










