PURWAKARTA || WARTAJABAR.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 berlangsung khidmat dan penuh sukacita di Vila Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Senin (17/8/2026). Momentum tersebut semakin istimewa karena bertepatan dengan perayaan HUT GBI Juanda 321 ke-28.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diikuti jemaat serta keluarga besar GBI Juanda 321. Bertindak sebagai inspektur upacara, Pdt. Dany Bunyamin menyampaikan amanat tentang pentingnya memaknai kemerdekaan sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan meningkatkan kepedulian terhadap bangsa dan negara.
Dalam amanatnya, Pdt. Dany Bunyamin mengajak seluruh umat percaya untuk tidak hanya mengenang kemerdekaan sebagai bagian dari sejarah bangsa, tetapi juga mengisinya melalui kehidupan yang mencerminkan kasih, persatuan, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama.
Kemerdekaan, menurutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjaga kerukunan dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memecah persatuan.
“Indonesia tetap satu. Kemerdekaan yang kita nikmati harus menjadi momentum untuk terus menjaga persatuan, mengasihi sesama, serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” pesan Pdt. Dany Bunyamin.
HUT GBI Juanda ke-28, Momentum Mengucap Syukur
Usai pelaksanaan upacara, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan syukur HUT GBI Juanda 321 ke-28. Perayaan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan pelayanan gereja selama 28 tahun sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan.
Pdt. Dany Bunyamin bersama istri dan para penatua gereja melakukan prosesi pemotongan kue dan meniup lilin secara simbolis. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan pelayanan GBI Juanda.
Suasana perayaan berlangsung penuh keakraban dan kekeluargaan. Jemaat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh sukacita, sekaligus menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk mempererat kebersamaan.
Namun, perayaan HUT GBI Juanda ke-28 tidak sekadar menjadi seremoni ulang tahun gereja. Pesan yang disampaikan dalam rangkaian acara justru menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan jemaat, yakni pemulihan hati dan pemulihan keluarga.
Pdm. CAPT. Edward F. Limbong Sampaikan Pesan “Pemulihan Hati dan Pemulihan Keluarga”
Dalam acara syukuran tersebut, hadir Pdm. CAPT. Edward F. Limbong, seorang pilot penerbangan domestik, sebagai pembicara.
Dalam penyampaian Firman Tuhan, Edward mengangkat tema “Pemulihan Hati dan Pemulihan Keluarga.”
Tema tersebut menjadi pesan penting karena keluarga merupakan salah satu fondasi utama dalam kehidupan manusia. Keluarga bukan sekadar tempat untuk tinggal dan berkumpul, tetapi menjadi ruang pertama bagi seseorang untuk belajar tentang kasih, pengampunan, penghormatan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Pemulihan hati dimaknai sebagai proses untuk menyembuhkan luka batin, melepaskan kepahitan, mengatasi kekecewaan, serta membuka kembali ruang bagi kasih dan pengampunan. Hati yang mengalami pemulihan diharapkan mampu melihat persoalan dengan lebih jernih dan membangun kembali hubungan yang sempat renggang.
Sementara itu, pemulihan keluarga bukan berarti kehidupan keluarga terbebas dari persoalan. Pemulihan lebih jauh dimaknai sebagai kemauan untuk memperbaiki hubungan, membangun komunikasi yang sehat, saling mendengarkan, belajar memahami satu sama lain, dan menempatkan kasih sebagai dasar dalam menghadapi setiap persoalan.
Dalam kesaksiannya, Edward F. Limbong membagikan pengalaman hidup dan perjalanan imannya. Ia menyampaikan bagaimana keyakinan dan pengharapan kepada Tuhan dapat menjadi kekuatan ketika seseorang berada dalam situasi sulit.
Kesaksian tersebut menjadi motivasi bagi jemaat agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan kehidupan. Setiap pergumulan, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun kehidupan pribadi, dapat menjadi proses untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan menemukan kembali harapan.
Pemulihan hati juga mengajarkan pentingnya keberanian untuk melepaskan luka masa lalu, belajar mengampuni, serta memberikan kesempatan kepada diri sendiri dan orang lain untuk mengalami perubahan.
Ketika hati dipulihkan, hubungan dengan pasangan, anak, orang tua, maupun sesama dapat kembali dibangun dengan kasih, ketulusan, dan pengertian.
Kemerdekaan Dimulai dari Hati dan Keluarga
Pesan tentang pemulihan hati dan keluarga memiliki keterkaitan yang kuat dengan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi setiap individu untuk membangun kehidupan yang lebih damai, dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
Keluarga yang dibangun atas dasar kasih, pengampunan, komunikasi dan saling menghargai akan menjadi fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang kuat. Sebaliknya, persoalan keluarga yang dibiarkan tanpa penyelesaian dapat menimbulkan luka dan konflik yang berkepanjangan.
Karena itu, momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan HUT GBI Juanda ke-28 menjadi refleksi bersama bahwa membangun bangsa dapat dimulai dari membangun keluarga.
Hati yang dipulihkan akan melahirkan hubungan yang dipulihkan. Hubungan yang dipulihkan akan menguatkan keluarga. Dan keluarga yang kuat akan menjadi bagian dari masyarakat yang kuat.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana penuh sukacita, kekeluargaan, dan rasa syukur. Seluruh acara berjalan tertib dan khidmat sejak upacara pengibaran Bendera Merah Putih hingga perayaan HUT GBI Juanda 321 ke-28.
Momentum tersebut akhirnya bukan hanya menjadi perayaan HUT Kemerdekaan RI dan ulang tahun gereja, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejatinya dapat dimulai dari hati yang terbebas dari kepahitan, keluarga yang dipulihkan, serta kehidupan yang dibangun atas dasar kasih, persatuan, dan pengharapan.
**Parlin











