WARTAJABAR.COM – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama SEAMEO QITEP in Science (SEAQIS) meluncurkan riset kolaboratif bertajuk A Comparative Study of STEAM Learning Practices in Korea and Indonesia to Promote Convergence Education.
Riset tersebut bertujuan memetakan sekaligus membandingkan penerapan pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) oleh guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Indonesia dan Korea Selatan.
Penelitian ini mengkaji praktik convergence education dalam pembelajaran STEAM, serta mengidentifikasi tantangan dan praktik terbaik yang dapat diadaptasi oleh kedua negara.
Ketua Tim Peneliti UPI, Prof. Dr. Ida Kaniawati, M.Si., mengatakan integrasi STEAM menjadi aspek penting dalam menyiapkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan berbagai persoalan.
“Integrasi elemen STEAM menjadi krusial dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan pemecahan masalah (problem-solving), berpikir kritis, serta kreativitas yang tinggi,” ujar Ida Kaniawati.
Menurut Ida, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang berada di garis depan dalam penerapan pendidikan STEAM. Sementara Indonesia terus memperkuat transformasi pembelajaran melalui pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning).
Untuk memperoleh data yang komprehensif, penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama berupa survei terhadap ratusan guru IPA tingkat pendidikan menengah di Indonesia dan Korea Selatan untuk mengukur pemahaman, persepsi, serta tingkat penerapan pembelajaran STEAM.
Tahap kedua dilakukan melalui wawancara terstruktur secara daring menggunakan Zoom. Tahapan ini bertujuan menggali pengalaman guru, tantangan teknis dan pedagogis, serta dukungan fasilitas pembelajaran di sekolah.
Selanjutnya, tahap ketiga dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses pembelajaran IPA. Observasi tersebut untuk melihat respons siswa serta efektivitas integrasi unsur seni dan teknologi dalam pembelajaran sains.
Deputi Direktur Program SEAMEO QITEP in Science, Apriyagung, Ph.D., mengatakan hasil penelitian ini akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan dan materi pelatihan bagi guru IPA di kawasan Asia Tenggara.
“Hasil studi komparatif ini nantinya akan digunakan untuk menyusun rekomendasi kebijakan serta materi pelatihan bagi guru-guru IPA di kawasan Asia Tenggara,” kata Apriyagung.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas wawasan guru IPA di Indonesia dalam merancang modul pembelajaran inovatif dan interdisipliner.
“Melalui kolaborasi ini, diharapkan guru IPA di Indonesia dapat memperoleh wawasan baru dalam merancang modul pembelajaran yang inovatif dan interdisipliner,” ujarnya.
Melalui riset kolaboratif ini, UPI dan SEAQIS berharap praktik pembelajaran STEAM di Indonesia semakin berkembang melalui adopsi pengalaman dan praktik terbaik dari Korea Selatan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran IPA sekaligus memperkuat kompetensi peserta didik dalam menghadapi tantangan era global.
Amaira










